Rabu, 19 Juni 2013

Under a violet moon

Malam ini di depan laptop tua, suara Candice Night mengalun lembut dalam lagu Under a violet moon. Lagu klasik dari Blackmore's Night yang membuat pikiran melayang jauh. Seperti dibawa ke era medieval dengan folk musik nya yang aneh bagi orang awam. 

Alunan lagu ini mengingatkan lagi kenangan akan perjalanan di bawah atap bumi kawasan taman nasional bromo tengger semeru. 
Diatas sebuah bukit, dengan lampu terang yang tak mungkin direngkuh dengan tangan dan ditemani oleh gemerlapnya bintang. 
Udara dingin menyelimuti tubuh, dengan berteman sebotol air suci dan api yang kami buat dengan susah payah membuat suasana semakin hangat.

Membiarkan pikiran melayang jauh, senandung angin dan jangkrik membuat suasana malam itu semakin tak bisa dilupakan.

Api unggun pun tak kalah diam, dia menampakkan berbagai wajah wajah indahnya.



Dia menampakan wajahnya seperti seekor rusa kecil yang akan berlari dengan cepat dan melompat lompat kecil. Mungkin inilah wajah imajinasiku. 

Seperti inilah yang kadang terlewatkan, karena kita lebih senang melihat sesuatu yang besar dan lebih menarik.


Kadang kita tidak sadar dari hal kecil, 

kita bisa tersenyum atau mencerca


Rabu, 12 Juni 2013

We See And We Fucking Judge!


"Kesan pertama begitu menggoda, setelah itu terserah anda"



Sebuah kata yang seringkali kita dengarkan beberapa tahun belakang, sebuah tag line iklan dari brand kampak yang mungkin mengambil inspirasi tag line nya dari mindset kebanyakan orang. 
Sebuah tindakan yang secara tidak sadar kita lakukan setiap hari, karena kita memandang hanya dengan mata kepala bukan dengan mata hati.

Bagi kebanyakan orang, kesan pertama lebih penting daripada kesan selanjutnya, ya dengan menampilkan sebuah kesan palsu untuk menarik seseorang lebih respect dan menghargai kita. 
Dengan kesan yang baik diawal kita seperti diberi sebuah "award" oleh orang orang, sebuah tindakan yang bisa saja disebut palsu karena kita melakukan sesuatu untuk mengharapkan sebuah "award" bukan karena seharusnya.

Ada peristiwa ketika seorang anak keturunan adam yang sedang mencari pendampingnya kelak, seringkali menampilkan kepalsuan kepalsuan untuk menarik si anak hawa demi mendapatkan sebuah "award" untuknya. 
Walaupun untuk kasus ini sangat sangat relatif, ketika beberapa orang yang melakukannya dengan seharusnya bukan dengan apa yang harus dilakukan. #ifyouknowwhatimean

Yang kedua adalah ketika si anak manusia mencari sebuah pekerjaan yang secara sengaja mengharuskan dia menampilkan suatu kesan yang baik dalam suatu pertemuan yang menentukan nasibnya kelak. 
Dalam kasus ini seringkali si anak manusia ini menampilkan sebaik baiknya dirinya yang mungkin belum tentu seperti wajah dirinya.

Mungkin beberapa orang dari kita pernah melakukan sebagian kecil dari contoh diatas.


 Oh shit! we have become the hypocrite generations!


Ketika mindset orang orang dirubah menjadi 


"Kesan pertama hanya pembuka, setelah itu terserah anda"


Mungkin kita tidak akan langsung menyingkirkan orang orang yang kita anggap tidak menarik. Dan tidak akan ada lagi kepalsuan dari orang orang yang setiap harinya harus memakai topeng untuk menampilkan kesan yang akan membuat naik harga dirinya.

Jika saja setiap saat kita bisa menilai bukan dari sampul dan fisiknya tetapi dari sisi terdalamnya atau pemikirannya tidak akan ada lagi orang yang terbuang dari peradaban nya, sayang tidak banyak orang yang punya sisi ini.

Kehidupan dan pola hidup yang semakin rumit dari jaringan sel manusia ini, menjadikan kita sebuah generasi yang munafik, generasi bertopeng dan bukan menjadi sebaliknya.






Fuckyeah! We are People Shit, We Hypocrites, We are Suck!



*i'm so sorry about this chaotic post, i'm not a writer i'm just a maggot.

Kamis, 06 Juni 2013

Ini Pagimu Bukan Pagiku


Pagi ini matahari menyambut ku, 
mengantarkan ku ke dunia baru penuh fantasi.




Matahari tanpa banyak kata menawarkan sinarnya untuk semua pribumi setiap hari, sayang tak banyak yang menghargai. Terkadang dia marah dan menampakkan  raut wajahnya yang sedih.

Bagi penikmat pagi, matahari pagi inilah yang terkadang membuat tenang jiwa. Dengan hangat sinarnya yang saling berdansa indah dengan sang embun memancarkan kebahagiaan abadi bukan ilusi.

Namun bagi pembenci pagi, hal seperti ini tidak terlalu dipikirkan atau mungkin akan dibenci setiap hari, ya mereka telah diperkosa oleh rutinitas yang membuat nista diri nya.

Dari sang surya pagi ini.


Pagi ibarat hitam dan putih, 
hitam bagi pembencinya dan puting terang bagi penikmatnya.


Satu Sisi

Satu sisi


Semua orang punya pemikiran yang bermacam macam, sebuah pemikiran yang di ibaratkan sebuah bumi.

Sebuah pemikiran, sebuah khayalan, sebuah imajinasi yang mungkin hanya dipandang sebelah mata oleh beberapa orang.

Ada otak yang memproses pemikiran hanya sebatas pemikiran semata dan beberapa otak yang memproses pemikiran dari sudut pandang minor yang mungkin dianggap tak penting.

Bagi beberapa orang memikirkan hal hal kecil dari sisi minor mungkin dianggap tak penting dan tak berguna. Sesuatu yang tak akan pernah menambah materi di dunia nyata hanya dianggap tak berguna.

Ada beberapa yang senang melihat dari sudut minoritas dari satu sisi ke sisi lain. Mereka melihat sesuatu ibarat melihat angin, suatu hal yang biasa kita temui kita rasakan tapi jarang untuk memperdulikan.


Sebuah kotak tak akan pernah menjadi kotak jika salah satu sisinya hilang

Lihatlah sesuatu bukan dari mata tetapi dari hati dan pikiran


ShareThis

 
;